Copyright © 2016 www.dickidirmania.com
SITEMAP | CONTACT US | TERMS & CONDITIONS
Bismillahirrahmanirrahim
Memaknai Tahun Baru
Setiap pergantian tahun hendaknya setiap insan dapat merenungkan kenyataan, dengan adanya kesempatan, kesehatan, dan kehidupan. Apakah sudah berupaya untuk memaksimalkan diri dalam tiga hal yang saling berkaitan tersebut, yaitu hidup, sehat dan sempat. Kalau ditanyakan apa bedanya antara hidup dengan mati. Pada hakekatnya hidup adalah masih menyatunya antara jasad dengan ruh. Walaupun kadang hidup yang demikian ini bukan kehidupan yang paripurna, banyak orang yang masih diberikan kehidupan, namun sudah tidak merasakan nikmatannya hidup. Semua sudah serba terbatas dan di batasi oleh keadaan, seperti orang yang hidup namun menderita penyakit kronis, seperti jantung, paru-paru, liver, ginjal, diabetes, penyakit pembuluh darah, kangker dan sebagainya.

Orang yang sakit sering kali membayangkan ketika mereka masih muda dan dalam kondisi sehat, mereka dapat melakukan aktifitas apapun yang diinginkan. Namun ketika sakit mereka hanya mengeluh dan putus asa. Kondisi ini tentu akan menambah bebas sakit sehingga menjadi komlipkasi, karena hati dan rasa belum siap menerima keadaan.

Karena itu walaupun hidup ini pada awalnya sesuatu yang tidak diminta, sebagaimana menurut Muhammad Immaduddin Abdurahim, PH.D, dalam buku Islam konsep nilai terpadu mengatakan bahwa 
  1. Hidup itu diberikan dengan cuma-cuma (gratis) tanpa diminta bahkan tanpa usaha, 
  2. Hidup diberikan kepada makhluk lain seperti hewan dan tumbuhan, 
  3. Dengan hidup manusia diberikan alat-alat kelengkapan demi kelangsungan hidupnya.

Namun setelah hidup tidak bisa menolak kehidupan dan berharap segera ditiadakan (dimatikan) lagi. Karena ketika hidup dan diberikan kesehatan sehingga dapat merasakan nikmatnya hidup didunia, maka banyak orang yang enggan mati. Walaupun dengan amal shalih yang telah dilakukan akan dilipatgandakan balasannya, sehingga menjadi lebih baik dari yang dilakukan. Niscaya kebanyakan manusia menginginkan kehidupan yang indah didunia ini, dunia nyata yang dapat dilihat dengan panca indra.

Demikian pula keadaan sempat adalah berkaitan dengan waktu, yang tidak akan pernah terulang lagi, maka orang yang menyia-nyiakan waktu adalah orang yang merugi. Menyia-nyiakan waktu bisa jadi karena berupaya untuk mengulur-ulur waktu, memanfaatkan waktu dengan kegiatan yang kurang bermafaat atau bahkan merugikan, bisa jadi tidak pernah menghiraukan waktu. Baginya sesuatu mengalir apa adanya, tanpa usaha yang maksimal. Kelompok ini sama sekali tidak diharapkan bagi setiap muslim, karena itu tiada pilihan lagi, bila ingin menjadi orang yang beruntung, hargailah waktu dan gunakan setiap kesempatan yang ada, kesempatan digunakan untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah dengan meningkatkan amaliahnya.

Rasul pernah mengatakan bahwa “barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari yang kemarin maka termasuk orang yang beruntung, barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin maka dia termasuk orang yang rugi, dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka termasuk orang yang dilaknat”. Ulang tahun menjadi tradisi dari tahun yang lalu diulang-ulang lagi pada tahun sekarang dan yang akan datang, akankah menjadi orang yang rugi atau dilaknat oleh Allah. Karena sebagai muslim hendaknya lebih korektif, dalam menghadapi kondisi zaman. Betapa beratnya menjadi pengikut yang tidak mempunyai prinsip, tidak mengetahui dasar, maksud dan tujuannya. Janganlah upaya kesalihan yang telah dilakukan selama bertahun-tahun menjadi hancur lebur dalam satu malam karena dampak dari perilaku yang tidak berdasar. “Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun, kemudian datang kepada mereka azab yang telah diancamkan kepada mereka”.(QS.26: 205,206)

Karena itu Allah mengingatkan pada hambanya agar memikirkan apa yang telah dilakukan untuk masa yang akan datang (wal tanzur nafsun ma qaddamat lighad QS. Al Hasyr: 18). Ketika perbuatan yang dilakukan berlandaskan pada aturan syariat Allah, maka akan termasuk golongan orang yang beruntung, memperoleh petunjuk dan tidak disesatkan Allah SWT.

Karena itu dengan bergantinya tahun, hendaknya menjadi media muhasabah, menghitung-hitung betapa besarnya nikmat dan karunia Allah yang telah diberikan secara gratis. Setiap detak jantung, tarikan nafas dan gerak langkah yang dilakukan dengan reflek menjadi irama kehidupan yang tidak dapat di nilai dengan uang.
Tahun baru hendaknya menjadi event introspeksi yang mempertinggi nilai-nilai keluhuran budi, menata masa depan yang cerah dan mempertajam mata hati. Tahun baru bukan dilihat dari kemeriahannya, orang-orang berlalu-lalang sedang mencari kepuasan diri. Tapi bagaimanakah menutup lembaran-lembaran hidup yang telah dilakukan, kemudian membukanya kembali, yang baik untuk ditingkatkan lagi dan yang buruk dikubur dalam-dalam. Karena sesungguhnya tahun baru bisa terjadi kapan saja, pergantian waktu dari siang ke malam, tempat dari tidur sampai bangun kembali, kedaan dari sakit kemudian menjadi sehat. Ini semua peristiwa baru yang tidak dapat dilupakan begitu saja tanpa makna yang berarti.
Selamat Tinggal tahun 2013, Selamat Tahun Baru 2014

Terima Kasih atas kunjungan para sahabat di Blog yang sederhana ini, semoga dapat memberikan Informasi dan Inspirasi bagi anda. Alangkah berkesan jika sahabat berkenan memberikan Komentar dan saran dari setiap Artikel yang kami muat.