• Twitter
  • Facebook
  • Google+
  • Instagram
  • Youtube
  • Arsip

About me

Tentang Saya


Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.
Sampurasun....


Saya Dicki Dirmania,,,
yang terkadang dipanggil oleh kawans-kawans dengan sebutan Mang Kuwu atau Omdick, Lahir di salah satu Kota tercinta yang selalu memberikan sejuta kenangan bagi setiap orang yaitu KOTA BANDUNG, pada tanggal 29 Desember 19xx lalu.

Saat ini Allah SWT, telah memberikan karunia terbesar dalam hidupku dengan memberikan 2 Jagoan terhebat Yucki Virgiawan Dirmania Putra dan Reyki Marhaen Dirmania Putra dari seorang Istri yang paling Cantik dan Baik di jagad raya Yetti Marliyatie Dirmania.

It's Me

Kuwu Mahatidana

Noted :

Di Web Personal ini saya mencoba menyampaikan berbagai Informasi yang menurut saya layak untuk disampaikan, dari mulai artikel Keorganisasian, Kepemudaan, Lifestyle, Hobby dan apapun yang diharapkan dapat menjadi Inspirasi, Referensi dan Motivasi bagi seluruh pembaca dimanapun berada.

Jika ada pertanyaan atau sekedar sharing, Silahkan hubungi saya di :
Telp / HP : 082233567234 - 087775666234 - 089627921234
E-mail: dickidirmania@yahoo.com / dirmaniacentre@gmail.com
Atau via Media Sosial-ku dibawah ini :

RESUME

Latar Belakangku


Organisasi

  • 2009-Sekarang

    Ketua Eksekutif @ YASEMA Centre

    Sebuah lembaga sosial (Yayasan) yang bergerak di bidang Pendidikan, Kesehatan, Advokasi dan Pemberdayaan masyarakat di Kota Bandung dan Kabupaten Sumedang.

  • 2014-2019

    Wk. Sekretaris 1 @ KARTA.bdg

    Sebelumnya Pernah Menjabat sebagai Ketua Karang Taruna Kelurahan Pasirluyu selama 3 Periode dan Menjadi Ketua Karang Taruna Kecamatan Regol selama 2 Periode, dan Kini menjadi salah satu Pengurus Karang Taruna Kota Bandung.

  • 2014-2019

    Pengurus @ DPD KNPI Jawa Barat

    Mewakili utusan OKP/Ormas Komando Inti Mahatidana Pemuda Pancasila Jawa Barat, Saat ini dipercaya menjadi salah satu Pengurus di Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Indonesia Provinsai Jawa Barat.

  • 2013-Sekarang

    Assisten 3 @ KOTI Mahatidana Jawa Barat

    Dipercaya menjadi Assisten III pada Lembaga Komando Inti Mahatidana Pemuda Pancasila Provinsi Jawa Barat, yang bertugas di bidang Informasi dan Hubungan Masyarakat.

Pendidikan

  • 1985-1991

    SD Nilem IV - Bandung

    Yang sebelumnya sekolah di SDN Asmi - Bandung dari kelas 1 s/d kelas 4, dan berpindah sekolah karena pindah tempat tinggal.
    Disinilah saya belajar mengenal Kehidupan.

  • 1991-1994

    SMPN XI - Bandung

    Sebuah Sekolah Favorit di jamanku ini banyak memberikan pelajaran, pengalaman dan teman, karena selain belajar formal mulai belajar berorganisasi.
    Maka disinilah saya belajar mengetahui Kehidupan.

  • 1994-1997

    SMU Taman Siswa - Bandung

    Sebuah Sekolah tertua yang didirikan Ki Hadjar Dewantara ini menjadi pilihan karena tak mampu melanjutkan ke Sekolah Negeri.
    Namun disini saya belajar Mencintai dan Memaknai Kehidupan.

  • 1997-Sekarang

    Belajar dengan Alam

    Karena tak mampu melanjutkan ke Perguruan Tinggi karena berbagai alasan, tidak mematahkan semangat saya untuk tetap belajar, karena belajar tidak selalu harus bersekolah.
    Saat inilah saya belajar Mengaplikasikan hidup sesungguhnya

Hobby & Aktifitasku

photography
85%
Computer
Presentation
90%
Organization
Design Graphis
100%
Tetap Belajar

Artikel

Pilih Artikel yang mau dibaca


25 Agustus 2016

Monitoring dan Evaluasi (Monev)

PENDAHULUAN


Monitoring dan Evaluasi (Monev) merupakan dua kegiatan terpadu dalam rangka pengendalian suatu program. Meskipun merupakan satu kesatuan kegiatan, Monitoring dan Evaluasi memiliki fokus yang berbeda satu sama lain. Karena kegiatan ini menggunakan metode pelatihan (workshop) maka bahan ini hanya sebagai pengayaan yang dilengkapi informasi pokok mencakup aspek-aspek penting dari Monitoring dan Evaluasi (Monev), seperti pengertian, tujuan, fungsi, manfaat hingga proses pembuatannya.

PENGERTIAN MONITORING & EVALUASI


Kegiatan monitoring lebih bertumpu (terfokus) pada kegiatan yang sedang dilaksanakan. Monitoring dilakukan dengan cara menggali untuk mendapatkan informasi secara regular berdasarkan indikator tertentu, dengan maksud mengetahui apakah kegiatan yang sedang berlangsung sesuai dengan perencanaan dan prosedur yang telah disepakati. Indikator monitoring mencakup esensi aktivitas dan target yang ditetapkan pada perencanaan program. Apabila monitoring dilakukan dengan baik akan bermanfaat dalam memastikan pelaksanaan kegiatan tetap pada jalurnya (sesuai pedoman dan perencanaan program). Juga memberikan informasi kepada pengelola program apabila terjadi hambatan dan penyimpangan, serta sebagai masukan dalam melakukan evaluasi.

Secara prinsip, monitoring dilakukan sementara kegiatan sedang berlangsung guna memastikan kesesuain proses dan capaian sesuai rencana atau tidak. Bila ditemukan penyimpangan atau kelambanan maka segera dibenahi sehingga kegiatan dapat berjalan sesuai rencana dan targetnya. Jadi, hasil monitoring menjadi input bagi kepentingan proses selanjutnya. 
Sementara Evaluasi dilakukan pada akhir kegiatan, untuk mengetahui hasil atau capaian akhir dari kegiatan atau program. Hasil Evaluasi bermanfaat bagi rencana pelaksanaan program yang sama diwaktu dan tempat lainnya.

Seperti terlihat pada gambar Siklus Majamen Monev, fungsi Monitoring (dan evaluasi) merupakan satu diantara tiga komponen penting lainnya dalam sistem manajemen program, yaitu Perencanaan, Pelaksanaan dan Tindakan korektif (melalui umpan balik). Sebagai siklus, dia berlangsung secara intens kearah pencapaian target-target antara dan akhirnya tujuan program.

FUNGSI MONITORING DAN EVALUASI


Menurut Dunn (1981), monitoring mempunya empat fungsi, yaitu:
  1. Ketaatan (compliance). Monitoring menentukan apakah tindakan administrator, staf, dan semua yang terlibat mengikuti standar dan prosedur yang telah ditetapkan.
  2. Pemeriksaan (auditing). Monitoring menetapkan apakah sumber dan layanan yang diperuntukkan bagi pihak tertentu (target) telah mencapai mereka.
  3. Laporan (accounting). Monitoring menghasilkan informasi yang membantu “menghitung” hasil perubahan sosial dan masyarakat sebagai akibat implementasi kebijaksanaan sesudah periode waktu tertentu.
  4. Penjelasan (explanation). Monitoring menghasilkan informasi yang membantu menjelaskan bagaimana akibat kebijaksanaan dan mengapa antara perencanaan dan pelaksanaannya tidak cocok

Penilaian (Evaluasi) merupakan tahapan yang berkaitan erat dengan kegiatan monitoring, karena kegiatan evaluasi dapat menggunakan data yang disediakan melalui kegiatan monitoring. Dalam merencanakan suatu kegiatan hendaknya evaluasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan, sehingga dapat dikatakan sebagai kegiatan yang lengkap. Evaluasi diarahkan untuk mengendalikan dan mengontrol ketercapaian tujuan. Evaluasi berhubungan dengan hasil informasi tentang nilai serta memberikan gambaran tentang manfaat suatu kebijakan. Istilah evaluasi ini berdekatan dengan penafsiran, pemberian angka dan penilaian. Evaluasi dapat menjawab pertanyaan “Apa pebedaan yang dibuat” (William N Dunn : 2000).

Evaluasi bertujuan untuk mengetahui apakah program itu mencapai sasaran yang diharapkan atau tidak. Evaluasi lebih menekankan pada aspek hasil yang dicapai (output). Evaluasi baru bisa dilakukan jika program itu telah berjalan setidaknya dalam suatu periode (tahapan), sesuai dengan tahapan rancangan dan jenis program yang dibuat dalam perencanaan dan dilaksanakan.

TUJUAN MONEV


Umpan balik dari sebuah program akan dipergunakan dalam perbaikan dan penyesuaian komponen-komponen yang tidak maksimal dalam pelaksanaan program. Bila memungkinkan perubahan scenario dan konsolidasi sumberdaya (proses manajemen) dapat dilakukan dalam pelaksanaan program sehingga lebih menjamin keberhasilan program.

Monitoring bertujuan mendapatkan umpan balik bagi kebutuhan program yang sedang berjalan, untuk mengetahui kesenjangan antara perencanaan dan terget. Dengan mengetahui kebutuhan ini pelaksanaan program dapat membuat penyesuaian dengan memanfaatkan umpan balik tersebut. Kesenjangan yang menjadi kebutuhan itu bisa jadi mencakup faktor biaya, waktu, personel, dan alat, dan sebagainya.

Dengan demikian, dapat diketahui misalnya berapa jumlah tenaga yang perlu ditambahkan atau dikurangi, alat atau fasilitas apa yang perlu disiapkan untuk melaksanakan program tersebut, berapa lama tambahan waktu dibutuhkan, dan seterusnya. Sementara itu, Evaluasi bertujuan memperoleh informasi yang tepat sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan tentang perencanaan program, keputusan tentang komponen input pada program, implementasi program yang mengarah kepada kegiatan dan keputusan tentang output menyangkut hasil dan dampak dari program kegiatan, dan terutama apa yang dapat diperbaiki pada program yang sama yang akan dilaksanakan di waktu dan tempat lain.

Secara umum tujuan pelaksanaan Monev adalah;
  1. Mengkaji apakah kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan telah sesuai dengan rencana
  2. Mengidentifikasi masalah yang timbul agar langsung dapat diatasi
  3. Melakukan penilaian apakah pola kerja dan manajemen yang digunakan sudah tepat untuk mencapai tujuan proyek.
  4. Mengetahui kaitan antara kegiatan dengan tujuan untuk memperoleh ukuran kemajuan,
  5. Menyesuaikan kegiatan dengan lingkungan yang berubah, tanpa menyimpang dari tujuan.

Secara lebih terperinci monitoring bertujuan untuk:
  1. Mengumpulkan data dan informasi yang diperlukan;
  2. Memberikan masukan tentang kebutuhan dalam melaksanakan program;
  3. Mendapatkan gambaran ketercapaian tujuan setelah adanya kegiatan;
  4. Memberikan informasi tentang metode yang tepat untuk melaksanakan kegiatan;
  5. Mendapatkan informasi tentang adanya kesulitan-kesulitan dan hambatan-hambatan selama kegiatan;
  6. Memberikan umpan balik bagi sistem penilaian program;
  7. Memberikan pernyataan yang bersifat penandaan berupa fakta dan nilai.

FUNGSI MONEV


Proses pengambilan keputusan berjalan atau berhentinya/perubahan sebuah atau beberapa program yang berkaitan dilakukan melalui proses evaluasi.
Fungsi Pengawasan dalam kerangka kegiatan monitoring dan evaluasi terutama kaitannya dengan kegiatan para pimpinan dalam tugas dan tanggungjawabnya adalah sebagai berikut:
  1. Mempertebal rasa tanggung jawab terhadap orang / manejer/ pejabat yang diserahi tugas dan wewenang dalam pelaksanaan pekerjaan.
  2. Membidik para pekerja atau pejabat agar mereka melaksanakan pekerjaan sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan.
  3. Untuk mencegah terjadinya penyimpangan, kelainan dan kelemahan agar tidak terjadi kerugian yang tidak diinginkan.
  4. Untuk memperbaiki kesalahan dan penyelewengan agar pelaksanaan pekerjaan tidak mengalami hambatan dan pemborosan-pemborosan yang tidak perlu.

Dalam kaitannya dengan monitoring Moh. Rifai (1986) menjelaskan fungsinya sebagai berikut:
  1. Evaluasi sebagai pengukur kemajuan; 
  2. Evaluasi sebagai alat perencanaan; 
  3. Evaluasi sebagai alat perbaikan.

Berdasarkan uraian uraian di atas dapat disimpulkan fungsi utama monitoring terkait dengan perihal: mengukur hasil yang sudah dicapai dalam melaksanakan program dengan alat ukur rencana yang sudah dibuat dan disepakati, menganalisa semua hasil pemantauan (monitoring) untuk dijadikan bahan dalam mempertimbangkan keputusan lanjutan.

MANFAAT MONEV

Secara umum manfaat dari penerapan sistem monitoring dan evaluasi dalam suatu program adalah sebagai berikut:
  • Monitoring dan Evaluasi (Monev) sebagai alat untuk mendukung perencanaan:
  1. Penerapan sistem Monev yang disertai dengan pemilihan dan penggunaan indikator akan memperjelas tujuan serta arah kegiatan untuk pencapaian tujuan tersebut. 
  2. Pemilihan indikator program yang melibatkan berbagai pihak secara partisipatif tidak saja berguna untuk mendapatkan indikator yang tepat tetapi juga akan mendorong pemilik proyek dan berbagai pihak yang berkepentingan untuk mendukung suksesnya program.
  • Monitoring dan Evaluasi (Monev) sebagai alat untuk mengetahui kemajuan program:
  1. Adanya sistem Monev yang berfungsi dengan baik memungkinkan pelaksana program mengetahui kemajuan serta hambatan atau hal-hal yang tidak diduga yang secara potensial dapat menghambat jalannya program secara dini. Hal terakhir bermanfaat bagi pelaksana program untuk melakukan tindakan secara tepat waktu dalam mengatasi masalah.
  2. Informasi hasil Monev dapat memberikan umpan balik kepada pelaksana program tentang hasil capaian program, dalam arti sesuai atau tidak sesuai dengan yang diharapkan
  3. Bilamana hasil program belum sesuai dengan harapan maka pelaksana program dapat melakukan tindakan penyesuaian atau koreksi secara tepat dan cepat sebelum program terlanjur berjalan tidak pada jalurnya. Dengan demikian informasi hasil Monev bermanfaat dalam memperbaiki jalannya implementasi program.
  • Monitoring dan Evaluasi (Monev) sebagai alat akuntabilitas program dan advokasi:
  1. Monev tidak hanya memantau aktivitas program tetapi juga hasil dari aktivitas tersebut. Informasi pemantauan terhadap luaran dan hasil (output dan outcome) program yang dipublikasikan dan dapat diakses oleh pemangku kepentingan akan meningkatkan akuntabilitas program.
  2. Informasi hasil Monev dapat dipakai sebagai bahan masukan untuk advokasi program kepada para pemangku kepentingan.
  3. Informasi tersebut akan memicu dialog dan pembelajaran serta memacu keikutsertaan

PERUMUSAN MANFAAT MONEV


Manfaat Monev dapat dilihat dari 2 (dua) sisi, yaitu manfaat bagi pihak Penanggung Jawab Program dan manfaat bagi Pengelola Proyek, yaitu:

  • Bagi pihak Penanggung Jawab dan Pengelola Program :
  1. Salah satu fungsi manajemen yaitu pengendalian atau supervisi. Sebagai bentuk pertanggungjawaban (akuntabilitas) kinerja
  2. Untuk meyakinkan pihak-pihak yang berkepentingan
  3. Membantu penentuan langkah-langkah yang berkaitan dengan kegiatan proyek selanjutnya.
  4. Sebagai dasar untuk melakukan Monev selanjutnya.
  5. Membantu untuk mempersiapkan laporan dalam waktu yang singkat
  6. Mengetahui kekurangan-kekurangan yang perlu diperbaiki dan menjaga kinerja yang sudah baik.
  7. Sebagai dasar (informasi) yang penting untuk melakukan evaluasi proyek.

  • Bagi pihak penerima dana BOSDA:
  1. Meringankan beban biaya operasional sekolah
  2. Memacu diri untuk meningkatkan prestasi
  3. Memacu semangat untuk meraih cita-cita

PRINSIP-PRINSIP MONEV


Hal yang paling prinsipil dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi adalah acuan kegiatan monitoring adalah ketentuan-ketentuan yang disepakati dan diberlakukan, selanjutnya sustainability kegiatannya harus terjaga, dalam pelaksanaannya objektivitas sangat diperhatikan dan orientasi utamanya adalah pada tujuan program itu sendiri.

Adapun prinsip-prinsip monitoring sebagai berikut:
  1. Monitoring harus dilakukan secara terus-menerus
  2. Monitoring harus menjadi umpan balik bagi perbaikan kegiatan program organisasi
  3. Monitoring harus memberi manfaat baik terhadap organisasi maupun terhadap pengguna produk atau layanan.
  4. Monitoring harus dapat memotifasi staf dan sumber daya lainnya untuk berprestasi
  5. Monitoring harus berorientasi pada peraturan yang berlaku
  6. Monitoring harus obyektif
  7. Monitoring harus berorientasi pada tujuan program.
Adapun mengenai prinsip-prinsip evaluasi, Nanang Fattah (1996) mengemukakan ada 6 prinsip, yaitu:
  1. Prinsip berkesinambungan, artinya dilakukan secara berlanjut.
  2. Prinsip menyeluruh, artinya keseluruhan aspek dan komponen program harus dievaluasi
  3. Prinsip obyektif, artinya pelaksanaannya bebas dari kepentingan pribadi.
  4. Prinsip sahih, yaitu mengandung konsistensi yang benar-benar mengukur yang seharusnya diukur.
  5. Prinsip penggunaan kritis
  6. Prinsip kegunaan atau manfaat

Prinsip dasar lainnya:
  1. Sistem Monev dibuat sederhana; disesuaikan dengan kapasitas dan sumber daya yang tersedia. Hal ini untuk menghindari kesulitan implementasi di lapangan.
  2. Tujuan yang jelas. Kegiatan Monev difokuskan pada hal-hal yang relevan dengan tujuan dari monitoring itu sendiri yang dikaitkan dengan aktivitas dan tujuan program. Jangan mengumpulkan data yang tidak relevan dengan kebutuhan program. Perlu dibuat logframe, intervention logic model, dan rencana kerja Monev yang antara lain mencakup rincian indicator kinerja yang akan dipantau.
  3. Dilakukan tepat waktu; ini merupakan esensi monitoring karena ketersediaan data on-time diperlukan bagi pihak manajemen/pengguna data untuk penyelesaian masalah secara tepat waktu. Selain itu ketepatan waktu monitoring juga penting untuk mendapatkan data akurat dalam memantau obyek tertentu pada saat yang tepat.
  4. Informasi hasil Monev harus akurat dan objektif; informasi tidak akurat dan objektif bisa menyebabkan false alarm. Perlu mekanisme untuk check konsistensi dan akurasi data.
  5. Sistem Monev bersifat partisipatif dan transparan; perlu pelibatan semua stakeholders dalam penyusunan design dan implementasinya, serta hasilnya dapat diakses oleh semua pihak.
  6. Sistem Monev dibuat flexible; dalam artian tidak kaku tapi bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi tapi masih dalam batas koridor SOP.
  7. Bersifat action-oriented; monitoring diharapkan menjadi basis dalam pengambilan keputusan dan tindakan. Oleh karena itu sejak awal perlu dilakukan analisa kebutuhan informasi untuk menjamin bahwa data monitoring akan digunakan untuk melakukan tindakan.
  8. Kegiatan Monev dilakukan secara cost-effective.
  9. Unit Monev terdiri dari para specialists yang tidak hanya bertugas mengumpulkan data tetapi juga melakukan analisa masalah dan memberikan rekomendasi pemecahan masalah secara praktis.

PENDEKATAN DAN TEKNIK MONEV


Teknik dalam pelaksanaan monitoring dapat dilakukan dengan melalui kegiatan observasi langsung atas proses, wawancara kepada sumber/pelaku utama, dan kegiatan diskusi terbatas melalaui forum group discussion untuk memperoleh klarifikasi pelaksanaan program.

1. Pendekatan

Ada empat cara untuk memonitor keluaran dan dampak. Keempat cara atau pendekatan itu adalah pelaporan sistem sosial (social accounting), eksperimentasi sosial (social experimentation), pemeriksaan sosial (social auditing) dan pengumpulan bahan untuk penelitian sosial (social research cumulation). Pendekatan ini masingmasing mempunyai dua aspek yaitu aspek yang berhubungan dengan jenis informasi yang diperlukan (Dunn, 1981).

Keempat pendekatan ini mempunyai ciri yang bersamaan yaitu bahwa keempatnya:
  • TERPUSAT KEPADA KELUARAN KEBIJAKSANAAN, sehingga dalam monitoring ini sangat diperhatikan variabel yang mempengaruhi keluaran, baik yang tidak dapat dikontrol oleh pembuat kebijaksanaan (misalnya kondisi sekarang yang sudah ada), dan variabel yang dapat dimanipulasikan atau diramalkan sebelumnya;
  • BERPUSAT PADA TUJUAN, yaitu untuk memberikan pemuasan kebutuhan, nilai atau kesempatan kepada klien atau target;
  • BERORIENTASI PADA PERUBAHAN. Tiap-tiap pendekatan itu berusaha untuk memonitor perubahan dalam suatu jangka waktu tertentu, baik dengan menganalisis perubahan unjuk kerja antara beberapa program yang berbeda atau yang sama beberapa variabelnya, atau kombinasi antara keduanya;
  • MEMUNGKINKAN KLASIFIKASI SILANG KELUARAN DAN DAMPAK berdasarkan variabel-variabel lain termasuk variabel yang dipergunakan untuk memonitor masukan kebijaksanaan (waktu, uang, tenaga, perlengkapan) dan proses kebijaksanaan (aktivitas, dan sikap administratif, organisasi dan politis yang diperlukan untuk transformasi masukan kebijaksanaan menjadi keluaran), dan
  • BERHUBUNGAN DENGAN ASPEK PELAKSANAAN KEBIJAKSANAAN secara obyektif maupun subyektif. Indikator obyektif didasarkan atas data baru yang diperoleh melalui survei sampel atau studi lapangan (Dunn, 1981).

2. Teknik
  • OBSERVASI: Observasi ialah kunjungan ke tempat kegiatan secara langsung, sehigga semua kegiatan yang sedang berlangsung atau obyek yang ada diobservasi dan dapat dilihat. Semua kegiatan dan obyek yang ada serta kondisi penunjang yang ada mendapat perhatian secara langsung
  • WAWANCARA DAN ANGKET: Wawancara adalah cara yang dilakukan bila monitoring ditujukan pada seseorang. Instrumen wawancara adalah pedoman wawancara. Wawancara itu ada dua macam, yaitu wawancara langsung dan wawancara tidak langsung.
  • FORUM GROUP DISCUSSION (FGD): FGD adalah proses menyamakan persepsi melalaui urun rembug terhadap sebuah permasalahan atau substansi tertentu sehingga diperoleh satu kesamaam (frame) dalam melihat dan mensikapi hal-hal yang dimaksud.

PROSES MONEV


Proses dalam monev sederhananya adalah “menelusuri” proses pekerjaan proyek atau kegiatan sehingga dapat menemukan “apa yang sesungguhnya terjadi di antara PELAKSANAAN (proses) dengan TUJUAN yang dirumuskan. Apabila dalam penelusuran atau pemantauan itu ditemukan adanya pesenjangan atau penyimpangan yang direkomendasikan perubahan atau perbaikan sehingga kesenjangan segera teratasi. Atau setidaknya meminimalisir kerugian yang timbul akibat penyimpangan.

Karena manfaat monitoring itu sangat besar dan penting dalam peranannya sebagai “alat perencanaan” maka dilakukan dengan metode dan alat yang terstruktur dan sistematis, misalnya dengan menggunakan angket, wawancara, FGD dan sebagainya. Prosesnya secara skematik dapat dilihat seperti dibawah ini:




Nanang Fattah (1996) menyarankan langkah-langkah monitoring yagdapat bermanfaat diikuti seperti dalam diagram berikut:



Proses dasar dalam monitoring ini meliputi tiga tahap yaitu:
  1.   Menetapkan standar pelaksanaan;
  2.   Pengukuran pelaksanaan;
  3.   Menentukan kesenjangan (deviasi) antara pelaksanaan dengan standar dan rencana.

Monitoring dan Evaluasi dilaksanakan dengan mengikuti beberapa langkah sebagai berikut.
  • Tahap Perencanaan: Persiapan dilaksanakan dengan mengidentifikasi hal-hal yang akan dimonitor, variabel apa yang akan dimonitor serta menggunakan indikator mana yang sesuai dengan tujuan program. Rincian tentang variabel yang dimonitor harus jelas dulu, serta pasti dulu batasannya dan definisinya. “Variabel adalah karakteristik dari seseorang, suatu peristiwa atau obyek yang bisa dinyatakan dengan data numerik yang berbeda-beda.” (William N Dunn: 2000).
  • Tahap Pelaksanaan: monitoring ini untuk mengukur ketepatan dan tingkat capaian dari pelaksaan program/kegiatan/proyek yang sedang dilakukan dengan menggunakan standar (variable) yang telah dipersiapkan di tahap perencanaan. Setelah memastikan definisi yang tepat tentang variabel yang dimonitor serta indikatornya, maka laksanakan monitoring tersebut. Adapun indikator umum yang diukur dalam melihat capaian pekerjaan antara lain adalah :
  1. Kesuaian dengan tujuan proyek/kegiatan
  2. Tingkat capaian pekerjaan sesuai target
  3. Ketepatan belanja budget sesuai plafon anggaran;
  4. Adanya tahapan evaluasi dan alat evaluasinya;
  5. Kesesuaian metode kerja dengan alat evaluasi;
  6. Kesesuaian evaluasi dengan tujuan proyek;
  7. Ketetapan dan pengelolaan waktu;
  8. Adanya tindak lanjut dari program tersebut;
  • Tahap Pelaporan
Pada langkah ketiga, yaitu menentukan apakah prestasi kerja itu memenuhi standar yang sudah ditentukan dan di sini terdapat tahapan evaluasi, yaitu mengukur kegiatan yang sudah dilakukan dengan standar yang harus dicapai. Selanjutnya temuan-temuan tersebut ditindaklanjuti dan hasilnya menjadi laporan tentang program.



PENUTUP


Dari pembahasan di atas jelas bahwa M & E memiliki peran dan fungsi yang sangat penting. Terutama adalah untuk memastikan proses pelaksanaan kegiatan yang sedang berjalan benar-benar “on the track” sesuai tujuan proyek dan program. Monitoring dapat disebut sebagai “on going evaluation,” yang dilakukan sementara kegiatan berlangsung untuk melakukan perbaikan “di tengah jalan” bila diperlukan. Sementara Evaluasi dimaksud adalah “terminate evaluation,” yang dilakukan pada akhir proyek untuk memastikan apakah pelaksanaan dan manfaat proyek sesuai tujuannya atau tidak. Lalu, hasilnya dapat dijadikan sebagai masukan untuk perencanaan proyek/program berikutnya. 

5 Agustus 2016

Manfaat Sholat bagi kesehatan

Shalat adalah bagian dari ritual atau peribadatan hamba dengan Tuhannya dalam islam (Allah SWT), Kewajiban bagi seorang muslim yakni menjalankan ibadah salat 5 waktu. Gerakan-gerakan shalat ternyata sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Setiap gerakan memiliki keunggulan masing-masing yang intinya adanya rangsangan sel dan peredaran darah dalam tubuh agar bekerja lebih optimal.
 
Berikut gerakan-gerakan sholat yang baik bagi kesehatan :

1. Takbiratul ihram

Gerakan ini dilakukan pada permulaan salat. Dengan berdiri tegap, mengangkat kedua tangan, lalu disedekapkan di depan dada. Gerakan ini akan mambuat pernapasan menjadi lancar dan teratur. Selain itu, otot kedua tangan serta bahu akan berkontraksi, sehingga lebih kuat dan kencang.

2. Ruku

Gerakan ini dilakukan dengan membengkokkan badan ke arah depan, sehingga kedua tangan bertumpu pada tumit. Saat gerakan ruku dilakukan, otot di sekitar punggung hingga pantat akan mengalami kontraksi. Sementara itu, aliran darah terutama pada bagian tubuh atas akan lebih terasa lancar.

3. Sujud

Gerakan ini dilakukan dengan cara meletakkan bagian kepala ke alas lantai, hingga dahi dan ujung hidung menyentuh alas lantai. Sementara itu, jari-jari kaki dibengkokkan dan kedua telapak tangan juga menyentuh alas lantai. Sehingga aliran darah ke kepala akan mengalir dengan optimal.

4. Memaksimalkan fungsi otak

Seseorang yang bersujud dengan benar dan relatif lama dengan teratur tidak menutup kemungkinan bisa lebih cerdas dan kreatif. Gerakan sujud juga membuat otot dari leher hingga kaki akan bereaksi dan berkontraksi, sehingga akan lebih kuat dan kencang.

5. Duduk

Gerakan duduk di mana pantat dan paha bertumpu pada bagian kaki bawah. Hal ini akan menyebabkan otot kaki menekan sehingga peredaran darah akan terpompa lebih maksimal. Jika dilakukan secara teratur, gerakan duduk dalam sholat ini dapat mencegah penyakit linu atau nyeri pada bagian kaki.

6. Salam

Gerakan ini dilakukan dengan sederhana, yaitu hanya memutar kepala ke kanan dan ke kiri hingga melihat ke belakang, sekali saja. Namun demikian, jika dilakukan dengan benar akan membuat otot di bagian leher akan lebih terlatih dan kencang dan peredaran darahnya juga akan lancar.

Begitu sempurna bukan manfaat sholat bagi kehidupan kita. Selain mendapatkan pahala sholat juga akan membuat tubuh kita jauh lebih sehat tanpa kita harus melakukan pekerjaan yang melelahkan. Justru sholat akan mendatangkan kenikmatan yang luar biasa dalam hidup kita.

Sumber: rindudakwahislam

4 Agustus 2016

ASI Ekslusif, Anjuran yang menjadi Doktrin

ASI Ekslusif..... Saya rasa sudah tidak perlu dijelaskan apa kehebatannya. Karena bisa dijamin, hampir semua ibu paham sekali dan dengan fasih akan menjelaskan kegunaan ASI secara gamblang. Baik dari hasil survey sendiri via internet, bisik-bisik tetangga, petuah orang tua atau gempuran tips dari Dokter & Bidan saat proses melahirkan. Petuah dari WHO pun memperkuat semangat ini, dan memang 100% tidak diragukan kebenarannya. 

Semua mengobarkan semangat ASI Eksklusif dengan menggebu-gebu. Saking bersemangatnya, sampai secara tidak sadar telah terbentuk doktrin dikalangan para ibu maupun tenaga Medis ; bahwa ASI Ekslusif adalah hal wajib yang tidak bisa ditawar. Bisa atau tidak, harus bisa ! (Saya kalau lagi konsul ke dokter Obgyn atau Anak di berbagai RS, pasti ketemu yang seperti ini. Minimal satu Konsulen) Tapi apakah seperti itu ? Benarkah seorang ibu harus bisa memberikan ASI secara ekslusif kepada sang bayi yang berusia dibawah 6 bulan? Jika tidak, akan berdampak buruk pada pertumbuhan sang bayi, baik mental, kecerdasan maupun fisik? Secara kasat mata, pertanyaan seperti ini yang banyak menghantui para ibu yang sedang kesulitan melakukan manajemen ASI Eksklusif. 

Pengalaman saya  dan mendengar keluhan beberapa teman, ternyata sangat banyak ibu yang tidak mampu melakukan ASI Eksklusif dan mereka merasa terbeban dengan kenyataan tersebut. Karena selain khawatir dengan pertumbuhan sang bayi, mereka juga mendapat cercaan dan tanggapan sinis dari lingkungannya. Baik sesama ibu di lingkungan rumah maupun tenaga medis (Dokter, Bidan, Suster) saat pemeriksaan rutin di Balai Kesehatan (Rumah Sakit, Puskesmas, Klinik dll.). Seolah mereka adalah ibu yang gagal dan malas berusaha, padahal demi kebaikan sang bayi. 

Sebelum terlalu jauh membahas topik ini, terlebih dahulu dijelaskan  bahwa saya sama sekali tidak menyangkal kehebatan ASI. Saya akui penuh kedahsyatannya. Betul sekali bahwa Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu yang sia-sia, dan ASI memang diciptakan sebagai makanan bayi yang paling sempurna. Ada banyak buku yang menjelaskan perihal keunggulan ASI Eksklusif. Ada banyak orang yang siap menjelaskan apa dan bagaimana cara pemberian ASI Eksklusif. Namun adakah penjelasan, dalam kondisi seperti apa ASI Eksklusif bisa diterapkan ? WHO dalam situs resminya menjelaskan : "Exclusive breastfeeding is recommended up to 6 months of age, with continued breastfeeding along with appropriate complementary foods up to two years of age or beyond." "Recommended", bukan "Should be given". "Dianjurkan", bukan "diharuskan" Kenapa? 

Karena sebenarnya ASI Eksklusif hanya bisa dilakukan pada kondisi ibu yang ideal, 100% prima, baik mental maupun fisik. Yang berkemauan sangat kuat, hingga nyaris mencapai predikat "kepala batu". Selain faktor kerakusan sang bayi dalam menelan sejumlah ASI, ada faktor-faktor lain yang tidak memungkinkan seorang ibu untuk memberi ASI dalam jumlah cukup untuk si bayi. Untuk melakukan ASI Eksklusif, diperlukan pengorbanan luar biasa dari sang Ibu. Karena anda perlu nyaris 18-20 jam sehari dalam keadaan siap sedia, dengan asumsi 6-10 kali pemberian perhari, artinya ASI harus siap diberikan setiap 2,5 - 4 jam. Setidaknya pada 3 bulan pertama kehidupan sang bayi. Jujur, hanya  ibu yang beruntung bisa melakukannya. Selain faktor ASI berlimpah (hingga bisa dipompa dan disimpen dalam kulkas), sang ibu juga hampir bisa dipastikan minim tekanan sosial. Selalu dalam kondisi cerah ceria, tidak banyak pikiran dan beban hidup. Urusan rumah mungkin diserahkan pada anggota keluarga lain atau pembantu. Dan kalaupun lelah dan perlu istirahat, mungkin ada Babysitter atau saudara yang siap bantu. Atau mungkin sang ibu memiliki fisik hiper-fit, tidak pernah capek dan tidak bermasalah untuk hanya tidur maksimal 6 jam sehari selama 6 bulan. Namun bagaimana dengan ibu yang harus kembali bekerja setelah melahirkan? Bagaimana dengan ibu yang kondisi fisiknya sangat menurun dan sulit pulih karena harus mengurus bayi setiap saat? Bagaimana dengan ibu yang tidak memiliki pembantu/babysitter atau tanpa kehadiran sanak keluarga karena berjauhan lokasinya? Bagaimana dengan ibu yang menderita tekanan psikologis karena faktor ekonomi atau sosial-budaya (hubungan dgn mertua, anggota keluarga lain, lingkungan rumah dll) ? Tidak semua tempat kerja punya kulkas. Kalaupun ada, rasanya belum tentu boleh menitipkan ASI di sana. (Anda bisa bereksperimen dengan sedikit nekad. Tanyakan kepada Direktur tempat anda bekerja, apakah boleh menitipkan ASI di dalam Kulkas yang ada di ruang kerjanya?) Seandainya boleh, saat anda pulang kerja, berapa lamakah perjalanan dari kantor ke rumah? Dalam suhu kamar 27 Celcius, ASI bertahan selama 6 jam. Dalam suhu Jakarta yang kadang bisa jadi 31 Celcius, angka tadi melorot hingga 3 jam. Memang ada fasilitas yang bernama Cool Bag. Tas berpendingin yang bisa dibawa saat berada di tempat kerja. Namun apakah semua ibu dipastikan mampu membelinya ? Murah adalah salah satu kondisi yang relatif. Di tempat A mungkin dianggap murah harganya, namun di wilayah B belum tentu. Bisa juga dengan sekedar termos es atau wadah dengan es batu. Hanya tidak di semua tempat bisa tersedia. 

Mungkin ada juga yang tinggal bersama orang tua atau sanak saudara, yang dilengkapi minimal satu pembantu untuk mengurus rumah. Karena anda bisa 100% mengurus bayi, tanpa harus berpikir malam ini makan apa ? Cucian sudah kering belum ? Kalau adaTamu datang, disuguhin apa ya ? Dan tetek bengek lainnya. Lebih untung lagi kalau tersedia Babysitter. Jadi anda bisa tidur siang, sementara bayi diurus Babysitter. Bayi lapar? Ada ASI perah di kulkas Bayi rewel? Ada Neneknya yang siap menggendong Tapi bagaimana jika anda tinggal mandiri, tanpa orang tua dan saudara. Bahkan tanpa pembantu ? Anda bertanggung jawab terhadap kondisi rumah, sementara suami mencari nafkah. Jawabannya silakan dibayangkan sendiri. Anda juga beruntung, jika tinggal bersama mertua dan bisa 100% akur dengan sang "Ibu". Anda seiya-sekata dengan sang "Ibu" dalam mengurus Bayi maupun Suami. Tapi bagaimana jika anda cenderung diremehkan oleh mertua? Anda dianggap tidak becus mengurus Bayi, lengkap dengan petuah sinis & nyir-nyir ala Borju ? Secara Fisik mungkin terlihat kuat, masih bisa senyum walau mendapat sindiran bertubi-tubi. Namun Psikis anda tidak pernah bisa berbohong. 

Tekanan mental, sekecil apapun bisa berkumulatif menjadi tekanan besar. Dan jika telah mencapai tingkat depresi, ASI akan berhenti total. Sekuat apapun bayi menghisap, sebanyak apapun obat yang diminum, tidak akan ada pengaruhnya hingga penyebab depresi 100% hilang. Juga jangan lupakan faktor genetik, kelainan fisik, hormonal dan penyakit. Sekedar Flu pun bisa menggagalkan semangat ASI Eksklusif ( tidak semua ibu yang terkapar dengan demam 38,4 Celcius, dengan hidung meler, batuk dan sakit menelan, masih bersemangat untuk memberikan ASI secara langsung ) 

Setelah berbusa-busa ngetik sekian banyak kata (koq kaya belut ya ? mendadak berbusa...), yang saya ingin sampaikan adalah sudah menjadi kenyataan bahwa dalam suatu kondisi tertentu, tidak semua orang bisa melakukannya. Dunia kesehatan dan manusia bukan seperti Matematika, dimana 1+1 hasilnya pasti 2. Tapi bisa 1,5 atau 2,75. Begitu pula dengan masalah ini. Dalam kondisi seperti ini, cukup banyak praktisi kesehatan dan berbagai kalangan masyarakat yang sekilas kurang peka terhadap kondisi psikologis sang ibu. Dari sekedar masalah emosional ringan hingga berat. Juga kondisi fisik yang kurang mampu berfungsi normal. Pengamatan saya selama ini, hampir selalu mendapatkan/mendengarkan keluhan bahwa ada beberapa ibu kurang beruntung yang justru mendapat tekanan Psikologis saat menghadapi Konsulen atau yang memberi nasehat. Entah karena sikap yang kurang simpatik atau pemilihan tata bahasa yang kurang pas. Kecenderungan  untuk meremehkan kadang lebih besar dari sekedar menelaah pokok permasalahan yang sebenarnya di derita sang ibu. Kadang alih-alih mendengarkan curahan hati sang ibu secara lengkap, sang konsulen jauh lebih sibuk mengindoktrinasi ketimbang mencari jalan keluar dari permasalahan yang ada. Diperparah lagi dengan menggebu-gebu bercerita tentang efek negatif yang akan di derita sang bayi ketika dewasa jika tidak mendapat ASI (kecerdasan menurun, kena Diabetes, hipertensi dll). Maka semakin besar lah tekanan psikologis yang didapat sang ibu. Dihadapan kita, mungkin dia masih bisa tersenyum. Namun ketika dia pulang ke rumah dan berada dikamarnya merenung, siapa yang tahu ? 

Jika hanya masalah emosional ringan, seperti ketidaktahuan, kemalasan dan lain sebagainya. Mungkin bisa ditanggulangi dengan saran dan bimbingan. Namun jika masalahnya termasuk kategori menengah hingga berat (masalah keluarga, ekonomi, keterbatasan fisik dll), perlu lebih dari sekedar saran untuk menganggulanginya. Dan terus terang, pengalaman mengajarkan bahwa hal-hal seperti itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kadang tidak selesai dalam hitungan hari, kadang perlu waktu tahunan. Kadang praktisi juga melupakan masa kecilnya sendiri. Bahwa mungkin ia dulunya pun tidak dibesarkan murni 100% oleh ASI. Mungkin dengan bubur pisang, nasi tim, air putih, air teh dan lain sebagainya. Dan apakah kini mereka tumbuh menjadi bodoh ? Tidak. Mereka tumbuh pintar seperti sekarang ini. Namun kenapa mereka meremehkan orang lain ? Entahlah. 

Sudah menjadi kebiasaan sebagian manusia untuk melupakan sejarahnya sendiri demi mencapai apa yang ia inginkan. Hingga lebih ke arah pencapaian tujuan pribadi ketimbang simpati. Tidak semua, namun ada. Sehingga mohon jangan meremehkan seorang Ibu yang tidak dapat memberikan ASInya secara eksklusif. Saya sangat yakin, di lubuk hatinya pasti dia ingin memberikan ASI secara Eksklusif. Namun apa daya, kondisi tidak memungkinkan. Sangat mau, tapi tidak bisa.... Mohon pahami betul dan jadikan anda dalam posisi sang ibu, sebelum menilai. Ibu yang menderita bukanlah produksi ban berjalan, dimana semuanya identik. Tapi seorang manusia biasa yang memiliki perbedaan dengan manusia lain. Pilihlah kata dengan bijak, sesuai kondisi sang ibu. Mohon jangan menggunakan "ketakutan" sebagai poin pembenaran saat memberikan konsul / nasehat. Teori tetaplah teori, yang kadang berbeda hasilnya ketika diterapkan dalam dunia nyata. Hingga hendaknya ASI Ekslusif tidak menjadi doktrin/keharusan, tapi menjadi anjuran. Seperti yang tertulis dalam Resolusi WHO (http://www.who.int/topics/breastfeeding/en/). 

Doktrin adalah sesuatu yang sensitif. Di mana batas antara kepentingan umum & kepentingan diri sangatlah tipis. Kepada ibu yang beruntung : biarlah kebanggaan itu berada dalam diri anda sendiri. Seraya bersyukur kepada Tuhan, bahwa anda telah diberikan kesempatan nan indah tersebut. Janganlah mencerca atau meremehkan mereka yang tidak bisa. Anda bisa seperti ini karena ijin Tuhan. Kepada ibu yang kurang beruntung : Janganlah berkecil hati. Ketidakmampuan anda bukanlah aib. Karena kekuatan dan kecerdasan anak, bukan hanya dari ASI. ASI hanya menyumbang kecerdasan dasar manusia, bukan intelektual. Sebanyak apapun seorang anak mendapat ASI, tidak menjamin anak itu menjadi Juara Kelas saat dia sekolah. Masih banyak faktor yang menentukan kecerdasan seorang anak dalam tahun-tahun kehidupannya. Jika anda mencampurnya dengan pemberian Susu Formula (SuFor) ; toh masih ada ASI yang diberikan. Walau tidak banyak, tapi lumayan mencukupi untuk daya tahan sang anak. Jika anda terpaksa total hanya memberikan Sufor karena ASI berhenti berproduksi, jangan takut. Meski mungkin si anak termasuk dalam kategori rentan sakit, namun tidak berarti dia tidak bisa tumbuh cerdas. Seiring dengan berjalannya waktu, Kekebalan sang anak akan bertumbuh dan ia akan sehat seperti anak2 lain. 

Di Indonesia ini banyak orang yang tumbuh dari Sufor atau MPASI lainnya, terutama yang lahir sekitar tahun 70-80an.  Tapi apakah mereka pasti bodoh dan penyakitan ? Tidak. Banyak orang hebat di dunia ini tumbuh dari Sufor dan MPASI (walau tidak saya sarankan untuk bayi berumur dibawah 6 bulan). Tetaplah berusaha, meski harapan menipis. Jika Tuhan mengijinkan untuk memproduksi ASI kembali dalam jumlah cukup, anda patut bergembira. Jika Tuhan tidak mengijinkan, anda patut bergembira juga. Karena bayi anda tetap hidup dan sehat, walau kurang atau sama sekali tidak mendapat ASI. Sedikit tambahan, tulisan pembelaan ini tidak ditujukan bagi para ibu yang secara fisik & mental 100% mampu memberikan ASI eksklusif, namun menolak memberikan ASI karena alasan sepele yang tidak bisa dicerna logika (takut bentuk payudara berubah, sibuk ngurus arisan dll). 

Akhir kata, mohon maaf jika tulisan ini masih banyak kekurangannya. Semoga berkenan bagi para pembaca.

2 Agustus 2016

Karang Taruna vs Panitia Agustusan

Nikmat Tuhan mana lagi yang akan kau dustakan ?" ungkapan ini mengingatkan kita pada salah satu nikmat yang telah Tuhan berikan kepada bangsa tercinta, yaitu nikmat kemerdekaan di Indonesia yang telah dicapai selama 71 tahun. Berkat rahmat Tuhan YME dan semangat juang para Pahlawan Indonesia, sehingga kita sebagai rakyat Indonesia bisa menghirup udara segar dengan leluasa.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Kemerdekaan adalah hak segala bangsa di dunia dan hak itu telah diberikan para pahlawan melalui perjuangan pembebasan dari penjajahan. Kewajiban kita adalah untuk mempertahankan dan memperjuangkan cita-cita para pahlawan itu sampai pada tingkat kemakmuran dan keadilan yang merata.

Dalam upaya mengisi dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, banyak cara yang dilakukan oleh pemerintah, agar tercipta kehidupan masyarakat yang adil dan makmur merata secara material dan spiritual. Akan tetapi, banyak juga hambatan yang dihadapinya, salah satunya adalah munculnya gerakan-gerakan separatis yang ingin melepaskan diri dari NKRI, sehingga mereka merupakan gerakan yang tidak menghargai perjuangan para pahlawan. 

Selain itu, banyak juga upaya yang dilakukan oleh warga masyarakat di seluruh tanah air, sebagai salah satu bentuk sambutan, rasa bangga dan rasa cinta terhadap bangsa yang dinamakan  INDONESIA, terbukti sejak tanggal 1 Agustus mayoritas rakyat Indonesia  memasang Bendera Merah Putih dan berbagai atribut bendera layur yang ikut mewarnai kemeriahan HUT RI.

Berbagai Kegiatan Menyambut/Memeriahkan HUT Kemerdekaan RI antara lain :
  1. Memasang/Mengibarkan Bendera Merah Putih
  2. Kerja Bhakti Membersihkan Lingkungan
  3. Menyelenggarakan Berbagai Jenis Perlombaan
  4. Mengadakan Hiburan
  5. Pawai / Karnaval
  6. Tasyakuran/tirakatan pada malam 17 Agustus
  7. Upacara 17 Agustus

Dari seluruh rangkaian kegiatan tersebut, untuk pelaksanaan di kewilayahan akan dibentuk yang namanya Panitia Peringatan HUT Kemerdekaan RI yang tidak bisa dipungkiri mayoritas adalah Karang Taruna sebagai panitia penyelenggaranya, maka tak heran ketika mendengar kalimat panitia HUT RI identik dengan Karang Taruna. 

Namun biasanya untuk di kewilayahan, peringatan HUT Kemerdekaan RI ini diselenggarakan oleh tingkat RW bahkan RT, sedangkan disisi lain Karang Taruna secara kelembagaan berada di tingkat Kelurahan/Desa. Hal inilah yang menginspirasi penulis untuk mengkaji tentang Panitia HUT RI dikaitkan dengan Karang Taruna.

Kita ketahui bersama di beberapa kewilayahan melakukan berbagai cara penggalangan dana dalam menunjang kegiatan tersebut, ada yang kreatif dan mandiri namun ada pula yang masih menggunakan pola/cara ortodok dengan model "ngencleng". Sungguh ironis ketika "budaya ngencleng" masih terjadi di negeri ini, khususnya di Kota Bandung. Betapa tidak, "ngencleng" adalah upaya meminta-minta yang dilalukan dijalan raya, yang dapat dikategorikan sebagai mengemis, sedangkan memgemis adalah salah satu kegiatan PMKS yang notabene menjadi garapan Karang Taruna. 

Terlebih di Kota Bandung, setiap Karang Taruna Kelurahan mendapatkan stimulan anggaran dari Pemerintah Kota senilai Rp. 100 juta dalam bentuk program yang namanya PIPPK, menjadi ironis ketika Karang Taruna tersebut masih melakukan kegiatan meminta-minta. 

Inilah yang coba penulis sampaikan ternyata tak seluruhnya Panitia HUT Kemerdekaan RI ini dapat dikaitkan dengan keberadaan Karang Taruna, karena yang disampaikan diatas bahwa Panitia HUT RI mayoritas dibentuk oleh Ketua RW/RT, dimana seharusnya menjadi tanggung jawab RW/RT untuk pelaksanaan kegiatannya. Terkecuali jika yang membentuk Panitia tersebut adalah Pengurus Karang Taruna, maka Karang Taruna lah yang bertanggung jawab masalah tekhnis dan anggaran kegiatannya. Sementara yang kita ketahui bersama bahwa Karang Taruna dengan RW maupun lembaga lainnya (LPM & PKK) keberadaannya sejajar sebagai mitra pemerintah. 

Selain itu, berkaitan dengan PIPPK Karang Taruna tidak seluruh Kelurahan memasukkan DPA kegiatan PHBN, yang pada akhirnya anggaran kegiatan HUT Kemerdekaan RI tidak dapat diakomodasi sehingga menjadi alasan "ngencleng" adalah solusinya.

Hal ini seharusnya menjadi evaluasi kita bersama, jika keberadaan Panitia HUT Kemerdekaan RI harus sinergi dengan keberadaan Karang Taruna, dengan cara :
  1. Pembentukan Panitia HUT Kemerdekaan RI menjadi kewenangan Karang Taruna untuk di Tingkat Kewilayahan;
  2. Tidak adanya Karang Taruna Unit RW sesuai dengan Pedoman Dasar Karang Taruna;
  3. Anggaran PIPPK agar memuat DPA PHBN yang besarannya disesuaikan dengan kondisi wilayah;
  4. Adanya tindakan tegas dari para pengurus wilayah (RT/RW) apabila terjadi kegiatan "ngencleng";
  5. Pengurus Karang Taruna peka terhadap permasalahan & kebutuhan wilayahnya;
  6. Pengurus Karang Taruna mampu melakukan sinergitas yang baik dengan potensi kewilayahan (Lurah, Lembaga, Perusahaan dan masyarakatnya);
  7. Memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang substansi dari sebuah Peringatan HUT Kemerdekaan RI, yaitu bukan sekedar memaksakan kegiatan namun lebih kepada melaksanakan sebuah kewajiban;
  8. Revolusi Mental, merubah paradigma lama yang tidak baik menjadi sebuah karya kerja yang inovatif, mandiri, aktif dan kreatif.

Inilah yang diharapkan mampu mewujudkan Karang Taruna Cita Rasa Baru, karena Karang Taruna Itu Keren...

"Adhitya Karya Mahatva Yodha"

Mengenal Karakter dari Tinggi Jarimu

Berhenti melakukan apapun dan coba lihat tanganmu.

Apakah jari manismu lebih panjang dari jari telunjukmu? Kalau iya, nampaknya level hormon testosteronmu sudah tinggi sejak ada di dalam kandungan.

Terus kenapa?

Para ahli menemukan fakta bahwa perbandingan jari manis dan telunjuk memiliki hubungan pada tubuh, otak dan kebiasaanmu.

Coba deh kamu lihat ketiga jenis tangan berikut, kemudian cari apakah jarimu ada di salah satunya. Kalau ada, cari jawabannya di bawah.

1. Jari manis lebih panjang daripada jari telunjuk

Kamu orangnya menarik dan juga pragmatis.

Orang yang punya jari manis lebih panjang cenderung berkharisma dan susah untuk ditolak. Orang seperti ini sering ngomong sama diri mereka sendiri sehingga sering dianggap aneh ketika berada di tempat umum. Namun, mereka juga tergolong agresif dan juga seorang pemberi solusi yang jitu. Mereka yang punya jenis jari seperti ini biasanya menjadi ilmuwan, insinyur, tentara, dan lain sebagainya.

 2. Jari telunjuk lebih panjang daripada jari manis

Kamu orangnya percaya diri dan cekatan.

Orang yang punya jari telunjuk lebih panjang biasanya percaya diri dan cekatan. Mereka kadang suka menyendiri untuk menyelesaikan pekerjaan, namun bukan berarti mereka bertipe penyendiri. Mereka adalah orang yang goal-oriented dan gak suka diganggu ketika sedang bekerja. Mereka gak pernah neko-neko namun juga ambisius.

3. Jari telunjuk dan jari manis sama panjang

Kamu orangnya cinta damai, kalem, dan gak neko-neko.
Orang tipe ini paling menghindari konflik dan pertengkaran. Mereka pintar mengorganisir sesuatu dan tak mau apapun selain membaur dengan orang lain. Mereka tipe yang setia, lemah lembut, dan perhatian terhadap pasangan namun hati-hati, tipe ini jika sudah marah bisa tak terkendali. Mereka mungkin terlihat pecinta damai dan kalem, namun di dalamnya emosi mereka meluap-luap.

Jadi... yang mana tipe jarimu?

Apakah sudah sesuai dengan karaktermu?

26 Juli 2016

Menjadi Manusia Yang Bermanfaat Bagi Orang Lain

Menarik sekali, banyak tulisan yang membahas pentingnya menjadi pribadi yang bermanfaat. Mengapa banyak orang yang tertarik tentang bahasan ini, sebab ini salah satu perintah Rasulullah saw kepada umatnya. Sabda beliau:
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni. Dishahihkan Al Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah)

Menjadi pribadi yang bermanfaat adalah salah satu karakter yang harus dimiliki oleh seorang Muslim. Seorang Muslim lebih diperintahkan untuk memberikan manfaat bagi orang lain, bukan hanya mencari manfaat dari orang atau memanfaatkan orang lain. Ini adalah bagian dari implementasi konsep Islam yang penuh cinta, yaitu memberi.

Selain itu, manfaat kita memberikan manfaatkan kepada orang lain, semuanya akan kembali untuk kebaikan diri kita sendiri.

"Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri" (QS. 17:7)

"Barangsiapa membantu keperluan saudaranya, maka Allah membantu keperluannya." (Muttafaq ‘alaih)


"Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan2 dunia, Allah akan menyelesaikan kesulitan2nya di hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat" (HR. Muslim)

Setelah mengetahui manfaat “menjadi pribadi yang bermanfaat”, pertanyaanya adalah bagaimana caranya agar kita menjadi pribadi yang bermanfaat?

LANGKAH-LANGKAH MENJADI PRIBADI YANG BERMANFAAT


Langkah #1: Menjadi Pribadi Yang Bermanfaat Adalah Kemauan
Kuncinya adalah kemauan, kemauan kita memberikan manfaat kepada orang lain. Jika kita punya harta, kita bisa memberikan manfaat kepada orang lain dengan harta. Jika kita punya ilmu, kita bisa memberikan manfaat ilmu kepada orang lain. Jika kita punya tenaga, kita bisa memberikan manfaat dari tenaga kita kepada orang lain.

Ini adalah langkah awal, Anda harus memiliki kemauan untuk memberikan manfaat kepada orang lain. Bagaimana pun kondisi Anda. Jangan malah mencari-cari cara untuk mendapatkan manfaat dari orang lain bahkan memanfaatkan orang lain.

Jika Anda mau, bagaimana pun kondisi Anda, Anda bisa memberikan manfaat kepada orang lain. Mau?

Langkah #2: Take Action Now

Apa yang bisa Anda lakukan sekarang untuk memberikan manfaat kepada orang lain? Anda bisa share artikel ini melalui facebook atau twitter Anda. Ini jauh lebih memberikan manfaat kepada teman-teman Anda daripada Anda update status yang tidak penting bahkan hanya berisi keluhan dan caci maki.

Lihat sekitar Anda, adakah yang bisa Anda bantu. Adakah yang bisa Anda lakukan untuk memperbaiki lingkungan, rumah, atau kantor Anda? Akan banyak yang bisa Anda lakukan untuk memberikan manfaat kepada orang lain.

Langkah #3: Biasakanlah Memberikan Manfaat, Jadikan Gaya Hidup Anda
Jika memberikan manfaat kepada orang sudah menjadi kebiasaan Anda, maka Anda sudah mulai menjadi pribadi yang bermanfaat. Pada langkah #2, Anda baru disebutkan melakukan kebaikan (belum menjadi akhlaq), namun jika sudah menjadi kebiasaan dan menjadi gaya hidup Anda, maka Anda sudah mulai menjadi pribadi yang bermanfaat.

Ini yang kada dilupakan orang. Banyak yang hanya membahas sampai melakukan kebaikan dengan cara membantu orang orang lain. Namun itu belum menjadi kepribadian, baru sebatas mau melakukan. Sebuah tindakan, akan menjadi sebuah akhlaq saat Anda sudah melakukan dengan biasa tanpa memikirkannya terlebih dahulu.

Anda memberi, belum tentu kepribadian Anda. Namun jika Anda sudah biasa memberi dan menjadi gaya hidup Anda, barulah disebut kepribadian.

Langkah #4: Tingkatkan Manfaat Diri Anda
Harus ditingkatkan? Tentu saja, sebab menurut hadits diatas tidak hanya mengatakan menjadi pribadi yang bermanfaat, tetapi ada kata superalif yaitu paling. Artinya Anda ditantang untuk menjadi juara dalam kebaikan. Anda harus menjadi yang paling memberikan manfaat kepada orang lain. Bukan sekedar memberikan manfaat.

Bagaimana cara meningkatkan manfaat diri Anda? Ya, Anda harus meningkatkan kuantitas dan kualitas kebaikan Anda. Kuantitas bisa dilihat dari frekuensi dan besarnya apa yang Anda berikan kepada orang lain. Sementara kualitas manfaat ditingkatkan dengan cara meningkatkan kualitas diri Anda, yaitu dengan meningkatkan keterampilan dan kemampuan Anda, sehingga apa yang Anda berikan semakin bermanfaat.

Langkah #5: Raihnya Manfaatnya Untuk Anda Juga
Jangan sampai, Anda memberikan manfaat tetapi tidak memberikan manfaat untuk diri Anda sendiri. Bukan, saya bukan mengatakan berharap dari orang yang kita berikan manfaat. Bukan itu. Namun, yang saya maksud adalah kita harus menghindari dari semua penghapus pahala amal, itu ketidak ikhlasan atau riya’.

Jadi, agar kita benar-benar mendapatkan dari manfaat yang kita berikan kepada orang lain, kita harus ikhlas. Ikhlas adalah kunci diterimanya amal. Dan hanya amal yang diterima Allah SWT yang akan memberikan manfaat kepada kita dunia dan akhirat.

Niatkan, bahwa apa yang kita lakukan hanya karena Allah, bukan karena ingin disebut pribadi yang bermanfaat (pujian). Penyakit riya sungguh tidak terlihat, sangat samar, sehingga kita harus hati-hati.

"Maka barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar dzarrah-pun, ia akan mendapatkan balasannya" (QS. Al Zalzalah:7)

Itulah kelima langkah menjadi pribadi yang bermanfaat, bahkan paling bermanfaat.


Layanan

Apa yang bisa saya lakukan


Presentasi

Menyampaikan presentasi Keorganisasian, Ke-Karang Taruna-an, Penyuluhan Remaja (Bahaya NAPZA, HIV/AIDS, KESPRO, Lifeskill, dsb).

Komputer

Menguasai Microsoft Office, CorelDraw, Adobe Photoshop, Software dan lain sebagainya

Design Graphis

Diawali dengan iseng akhirnya menjadi hobby dengan menggunakan CorelDraw dan Photoshop serta bantuan software lainnya.

Pemberdayaan

Berkat aktif dalam kelembagaan di kewilayahan, memberikan Pengalaman untuk melakukan Pemberdayaan Masyarakat dari semua golongan dan klasifikasi.

Photography

sama hal nya dengan Design graphis, diawali dengan iseng dan menjadi Hobby, urusan jepret-jepret menjadi bagian aktifitasku

Percintaan

Layanan ini khusus hanya diberikan kepada Istri dan anak-anakku tercinta serta bagi keluarga besarku yang saya banggakan

Kontak

Silahkan hubungi saya


Alamat :

1. Jl. Pasirluyu Selatan No.107/205A RT.03/03 BKR - Bandung
2. Perum Puteraco E2 No.1 Pasirnanjung - Parakan Muncang - Sumedang

Telepon

082233567234 - 087775666234 - 089627921234

Website

www.dickidirmania.com

Back to top