Copyright © 2016 www.dickidirmania.com
SITEMAP | CONTACT US | TERMS & CONDITIONS
Bismillahirrahmanirrahim
AKTUALISASI NASIONALISME
Setiap tahun, khususnya menjelang peringatan HUT Kemerdekaan RI, kita sering mendengar kata NASIONALISME menjadi thema sentral dari setiap aktivitas yang dilakukan oleh komunitas masyarakat Indonesia diberbagai pelosok tanah air. Beragam ekspresi ditampilkan, mulai dari seminar, dialog, pagelaran seni budaya, perlombaan, renungan suci, sampai ke pelaksanaan upacara peringatan detik-detik proklamasi, baik yang dilaksanakan di Istana Merdeka maupun di pusat - pusat kota di setiap Propinsi termasuk yang dilaksanakan di setiap KBRI pada masing-masing Negara akreditasi. Harapannya melalui tampilan tersebut, kita semua, kembali bersemangat untuk memelihara Nasionalisme dan senantiasa bangga menjadi bangsa Indonesia.

Nasionalisme berasal dari kata Nation yang berarti bangsa, sementara isme diartikan sebagai paham, sehingga secara harfiah Nasionalisme dapat berarti sebagai paham (ideologi) kebangsaan atau sering juga dimaknai sebagai rasa kebangsaan. Karena itu, Nasionalisme merupakan ideologi dari sebuah bangsa yang bersifat abstrak, yang berisikan bayang-bayang (imajinasi), cita-cita dan harapan hidup yang lebih baik sebagai suatu komunitas..!!


NASIONALISME PEMERSATU DALAM PERBEDAAN.!!


Dimensi bangsa, kebangsaan, dan rasa kebangsaan menjadi suatu yang “imagined” yang berarti “orang-orang yang mendefinisikan diri mereka sebagai warga suatu bangsa, meski tidak pernah saling mengenal, bertemu, atau mendengar, tetapi, dalam pikiran mereka hidup suatu image mengenai kesatuan dan kebersamaan yang berdaulat (sovereign) namun memiliki keterbatasan (limited) teritori, yang membedakan dengan bangsa-bangsa lain.



Sebagai ideologi, maka nasionalisme patut dipahami sebagai wacana untuk menunjukan identitas bangsa yang berdaulat, yang mampu melindungi dan menjaga eksistensinya dalam pergaulan dengan bangsa bangsa lain di komunitas masyarakat dunia.


Nasionalisme bangsa Indonesia.


Proses kelahiran bangsa Indonesia ditempuh melalui perjalanan panjang dan berliku. Bangsa Indonesia bukan hanya lahir sebagai warisan dari satu suku bangsa, namun tersusun dari berbagai suku bangsa dengan aneka ragam budaya, ras, agama dan golongan sosial dari masyarakat yang berdomisili di wilayah Nusantara, yang saat itu sedang dijajah oleh Belanda.


Tanpa mengurangi apresiasi terhadap para pejuang terdahulu seperti Teuku Umar, Imam Bonjol, P. Diponegoro, dll, maka dalam memaknai sejarah perjalanan bangsa Indonesia, umumnya dimulai dari prakarsa pendirian organisasi pergerakan modern dengan nama “Boedi Oetomo”, pada tahun 1908. Organisasi inilah yang kemudian menjadi cikal bakal kebangkitan nasional, karena meskipun berbasis di Jawa dan Madura, namun sudah mulai secara aktif mengangkat pemikiran-pemikiran mengenai kebangkitan nasional. Dua puluh tahun kemudian, atau tepatnya, pada tanggal 28 Oktober 1928, Boedi Oetomo mampu mengilhami dan mengugah kesadaran para pemuda seantero Nusantara untuk mendeklarasikan kesepakatan bersama dan bersumpah sebagai satu bangsa, yang memiliki satu bahasa dan satu tanah air, yaitu Indonesia.


Dalam perkembangannya, kesepakatan tersebut terus dipupuk dan dikembangkan sehingga bangsa Indonesia mampu merebut kemerdekaan serta berhasil membentuk sebuah Negara yang berdaulat sebagai wadah bangsanya, yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945.


Jika menyimak catatan sejarah perjalanan bangsa tersebut, maka yang perlu disadari oleh kita semua, generasi penerus, adalah, bahwa bangsa Indonesia lahir atas dasar kesepakatan dari semua etnik, suku bangsa yang saat itu mendiami wilayah jajahan Belanda. Bangsa Indonesia lahir sebagai perwujudan identitas diri, yang diimposisikan penjajah, sehingga bersamaan dengan itu lahir rasa kebangsaan atau nasionalisme Indonesia.


Pada era menjelang kemerdekaan dan sesaat setelah kemerdekaan, mencari sosok anak bangsa Indonesia yang memiliki jiwa nasionalis, tidaklah sulit. Hampir semua anak bangsa, baik politikus, ekonom, sosiolog apalagi prajurit, sikap perilakunya senantiasa diwarnai oleh semangat nasionalisme dan bangga menjadi bangsa Indonesia. Pekik heroik, senandung lagu-lagu perjuangan menjadi sound track kehidupan masyarakat pada saat itu. Perbedaan asal usul, agama ataupun perbedaan adat istiadat bukanlah merupakan kendala bagi mereka untuk bersatu dan terus bersatu, karena hanya satu yang ada di back mind mereka yaitu, memiliki negara yang merdeka dan berdaulat. Dalam kesehariannya, mereka tetap berkarya sesuai bidang profesi masing-masing, namun hampir kesemua output-nya, mereka tujukan bagi kepentingan perjuangan bangsa untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang telah mereka bentuk. Motto mereka “Sekali merdeka tetap merdeka!”, pokoknya NKRI harga mati !


Jiwa nasionalisme inilah yang harus terpatri dalam setiap sanubari anak bangsa Indonesia agar eksistensi bangsanya tetap hidup sepanjang masa. Jika para pendahulu bangsa, meramu nasionalisme sebagai strategi untuk menghadapi penjajah, untuk merebut kemerdekaan dan mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maka tugas kita, generasi penerus, yang terlahir sebagai anak bangsa Indonesia, adalah menumbuh kembangkan jiwa nasionalisme dalam setiap komunitas kehidupan, mampu menjaga dan meningkatkan kualitas hidup bangsa Indonesia agar setiap saat siap menghadapi tantangan jaman. Usia manusia memang terbatas namun usia negara dan bangsa harus tetap hidup selama-lamanya.


Nasionalisme yang mengandung unsur cinta tanah air dan rasa bangga terhadap bangsanya, bermakna bukan hanya sekedar rangkaian kata-kata yang cukup untuk dihafalkan atau hanya sebatas ditunjukan dalam kegiatan ceremonial, akan tetapi nasionalisme harus senantiasa di aktualisasikan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari sesuai tugas, tanggung jawab dan strata kewenangan masing-masing. Tantangan kehidupan senantiasa berubah sesuai tuntutan perkembangan jaman, karena itulah nasionalisme juga harus tetap dimiliki oleh setiap anak bangsa dan senantiasa diaktualisasikan perwujudannya.


Aktualisasi



Sebelas tahun silam, sebagai upaya adaptasi bangsa dengan perubahan jaman, kita sepakat untuk melakukan reformasi. Seluruh komponen bangsa Indonesia pada setiap strata dan wilayah kewenangannya sedang melakukan pembenahan tatanan kehidupan sesuai tuntutan reformasi. Situasi bangsa secara umum sedang mengalami masa transisi, suatu masa yang penuh tantangan mengingat bersamaan dengan itu, peradaban duniapun sedang menghadapi era globalisasi yang sarat dengan intervensi kepentingan satu negara terhadap negara lain. Era ini, secara langsung atau tidak langsung, menuntut ketahanan nasional yang tangguh dari setiap negara. Karena itu, dari prespektif Ketahanan Nasional inilah, seluruh anak bangsa diharapkan memiliki jiwa nasionalisme dan memanfaatkannya sebagai benteng diri dalam menghadapi perubahan.


Secara lisan, nasionalisme sangat mudah diucapkan, tidak lebih dari hitungan menit, kita semua yang mampu bicara, dapat mengucapkan kata tersebut berulang kali. Namun ketika kata nasionalisme menuntut implementasi, sesaat itu pula tantangan mulai bermunculan, baik yang disebabkan oleh faktor internal maupun tantangan yang datang dari luar (eksternal).


Tantangan internal muncul, lebih disebabkan oleh fenomena keseharian yang sarat dengan perilaku ego sektoral dari sebagian anak bangsa itu sendiri. Nasionalisme memudar bersamaan dengan kecenderungan melemahnya nilai-nilai persatuan dan kesatuan, motto bangsa “Bhineka Tunggal Ika” tidak lagi populer dan tergantikan oleh inteprestasi yang berlebihan dari pemahaman tentang “kearifan lokal”.


Sementara di kalangan muda, yang tidak pernah merasakan langsung perjuangan seperti yang dilakukan para pendahulunya, yang hanya mendapat pelajaran tentang nasionalisme secara verbal, telah menyebabkan gaung nasionalisme tidak lagi bergema disana.


Masyarakat menjadi ragu, bahkan pernah dalam suatu diskusi interaktif, eksistensi Nasionalisme dipertanyakan melalui acara jajak pendapat dengan thema “masih adakah nasionalisme di negeri ini ?”. Pertanyaan tersebut menjadi menarik untuk dicermati, karena bukankah nasionalisme sama dengan rasa kebangsaan yang didalamnya terkandung rasa cinta tanah air, rasa bangga dan saling membanggakan terhadap bangsanya? Sehingga jika diproyeksi pada skala kecil dalam sebuah keluarga, pertanyaan tersebut maknanya analog dengan “masih adakah cinta, dan rasa saling membanggakan di keluarga ini?”


Dari analogi diatas, tentu kita dapat membayangkan, betapa parahnya kondisi sebuah keluarga yang didalamnya tidak ada lagi cinta, tidak ada lagi rasa saling membanggakan, karena masing-masing anggota keluarga hidup dengan dunianya sendiri. Nah, seandainya keluarga tersebut adalah keluarga kita, apakah kita tidak malu memiliki keluarga semacam itu? Dalam skala besar, malukah kita memiliki negara yang bangsanya tidak lagi memiliki rasa kebangsaan? Jika jawabannya “malu”, kita masih memiliki rasa malu, berarti kita masih punya jiwa nasionalisme, seperti yang pernah saya bilang, dalam sebuah interview “A key word of nationalism is shame”. If you feel no shame for your country you cannot be a nationalist” !


Pendek kata, nasionalisme sebagai abstraksi dari rasa kebangsaan memiliki manfaat untuk menciptakan suasana kehidupan bangsa yang lebih baik. Dengan rasa kebangsaan yang senantiasa diaktualisasikan, kita akan merasakan kehangatan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kita akan bangga menjadi bagian dari bangsa kita sendiri. Hanya tantangannya sekarang, bagaimana mengaktualisasikan nasionalisme ditengah-tengah kehidupan global ?.


Era globalisasi, disatu sisi diyakini sebagai salah satu bentuk kemajuan dalam peradaban manusia, dengan kemajuan teknologi, secara phisik kita menjadi mudah menjalani kehidupan. Namun seiring dengan itu, kehidupan global juga berpotensi membawa berjuta ancaman bagi entitas sebuah bangsa. Sebagai bangsa dari bagian masyarakat dunia, kita tidak lagi dapat menutup diri. Dulu untuk berkomunikasi dengan kerabat di luar negeri, jangankan bicara, tulis suratpun baru sebulan kemudian dapat balasan, itupun yang paling cepat. Tapi kini, tidak sampai hitungan menit kita sudah bisa bicara langsung dengan handai tolan yang ada disana, jika kita perlu berkomunikasi secara virtual, tinggal buka internet, klik-klik, kita sudah dapat berinterkasi dengan leluasa termasuk dapat melihat ekspresi wajah masing-masing.


Kemudahan inilah, cepat atau lambat telah merubah orientasi kehidupan anak bangsa, dari National Oriented bergeser ke Individual Performance Oriented. Untuk tampil prima dan eksis dalam pergaulan, kita tidak saja memerlukan cukup pangan, cukup sandang, tetapi juga perlu ditopang oleh barang-barang kebutuhan sekunder. Masing-masing individu apapun profesinya, secara sadar atau tidak sadar, saling berlomba untuk “memperkokoh” penampilannya. Sedangkan konstribusi untuk negara, nanti dulu setelah kebutuhan akan penampilan individu tercukupi. Keuletan, kegigihan dan semangat pantang menyerah sebagai makhluk hidup masih tetap ada, hanya orientasinya lebih mengarah kepada pemenuhan kebutuhan individu atau kelompoknya saja.


Bagi bangsa Indonesia, era reformasi digulirkan, pada awalnya sangat diharapkan mampu mengembalikan deviasi orientasi, dari orientasi individual ke orientasi nasional sesuai cita-cita luhur bangsa. Namun dalam dinamikanya ternyata juga tidak cukup mudah, bahkan deviasi yang terjadi justru lebih cenderung mengarah kepada perilaku individualistis. Kepentingan negara hanya semakin dijadikan retorika oleh kelompok-kelompok masyarakat yang berfikir skeptis yang asyik memanfaatkan suasana reformasi untuk menggapai kepentingannya. Kondisi ini tentu berdampak terhadap upaya aktualisasi semangat nasionalisme. Paradigma nasional seperti Pancasila, UUD 45, Konsep Wawasan Nusantara dan Konsepsi Ketahanan Nasional yang telah disepakati oleh para pendiri bangsa sebagai alat pemersatu, sebagai jatidiri bangsa Indonesia dalam kancah pergaulan internasional, saat ini sedang mengalami distorsi.


Inilah tantangan yang harus kita hadapi, namun tidak perlu kuatir apalagi takut. Sebagai anak bangsa, kita harus senantiasa berprinsip ”Capai kemenangan atas tantangan”. Mari sama-sama kita berupaya untuk menumbuh-kembangkan jiwa dan semangat nasionalisme, tumbuhkan dan kobarkan terus rasa kebangsaan, ”untuk apa?” Tentu untuk mengangkat martabat bangsa Indonesia, karena sejatinya kredibilitas dan martabat bangsa ada ”ditangan” kita yang terlahir sebagai anak bangsa Indonesia,


(Terlahir sebagai anak Indonesia, kita tidak kuasa memilih, karenanya tidak ada alternatif lain bagi kita, kecuali mencintai Indonesia.)



Aktualisasinya, tidak perlu muluk-muluk, mulailah dari diri kita sendiri sesuai dengan kapasitas kita masing-masing. Contoh, jika saat ini, kita sebagai anak bangsa Indonesia yang berstatus pelajar, jadilah kita pelajar yang berprestasi, hindari perbuatan yang dampaknya akan merugikan kredibilitas kita sebagai pelajar. Demikian halnya, para profesional lainnya, atau siapa saja anak bangsa Indonesia, lakukanlah tugas dan pekerjaan kita secara proporsional dan profesional (do the best) sebagai perwujudan dari semangat nasionalisme pada stratanya. Jika saat ini, kita masih melihat ada orang Indonesia yang berperilaku menyimpang dan akumulasi perbuatannya merugikan negara. Dengan semangat nasionalisme, tumbuhkan tekad kita untuk tidak menirunya. Tidak perlu bersikap agresif dengan tindakan anarkhi, karena yakinlah secara alami orang-orang tersebut akan hilang dari peredaran dunia, tidak ada lagi perilaku menyimpang, jika perilaku tersebut tidak ditiru oleh generasi penerusnya.


Mungkin contoh diatas, terkesan individualistis yang seolah-olah tidak ada kaitannya dengan permasalahan bangsa dalam skala nasional. Namun mari kita berimajinasi, karena untuk memahami sebuah bangsa yang merupakan ”imagined communities” , kita perlu berimajinasi. dan bergerak..


”Seandainya, bangsa Indonesia, komunitas pelajarnya merupakan kumpulan dari para pelajar yang berprestasi, yang senantiasa mampu menjaga kredibilitas komunitasnya. Lalu dengan imajinasi yang sama, seandainya setiap komunitas masyarakat, merupakan kumpulan dari anak-anak bangsa yang bekerja secara proporsional, profesional dan tidak berperilaku menyimpang, betapa bangsa Indonesia akan merupakan bangsa yang besar dan bermartabat.”


Sekali lagi, untuk mengaktualisasikan semangat nasionalisme, kita jangan terjebak dengan ritualitas dan romatisme masa lalu. Kita, masing-masing harus bertekad untuk berbuat yang terbaik, yang hasilnya secara akumulatif akan memberikan konstribusi bagi kredibilitas bangsa Indonesia. Tuhan beserta kita, Jayalah Indonesia.


Catatan saya : yang harus di lakukan oleh bangsa indonesia saat ini adalah menghidupkan kembali spirit pembukaan UUD 1945 yang merupakan ''ruh'' dari eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia, [NKRI] dan menanamkan kesejatian jiwa nasionalismenya.


Djakarta 22,Februari,2010
 
Facebook | Catatan Uniek M. Sari: AKTUALISASI NASIONALISME ditulis oleh Hanggayuh MP.

Terima Kasih atas kunjungan para sahabat di Blog yang sederhana ini, semoga dapat memberikan Informasi dan Inspirasi bagi anda. Alangkah berkesan jika sahabat berkenan memberikan Komentar dan saran dari setiap Artikel yang kami muat.