Copyright © 2016 www.dickidirmania.com
SITEMAP | CONTACT US | TERMS & CONDITIONS
Bismillahirrahmanirrahim
ASI Ekslusif, Anjuran yang menjadi Doktrin
ASI Ekslusif..... Saya rasa sudah tidak perlu dijelaskan apa kehebatannya. Karena bisa dijamin, hampir semua ibu paham sekali dan dengan fasih akan menjelaskan kegunaan ASI secara gamblang. Baik dari hasil survey sendiri via internet, bisik-bisik tetangga, petuah orang tua atau gempuran tips dari Dokter & Bidan saat proses melahirkan. Petuah dari WHO pun memperkuat semangat ini, dan memang 100% tidak diragukan kebenarannya. 

Semua mengobarkan semangat ASI Eksklusif dengan menggebu-gebu. Saking bersemangatnya, sampai secara tidak sadar telah terbentuk doktrin dikalangan para ibu maupun tenaga Medis ; bahwa ASI Ekslusif adalah hal wajib yang tidak bisa ditawar. Bisa atau tidak, harus bisa ! (Saya kalau lagi konsul ke dokter Obgyn atau Anak di berbagai RS, pasti ketemu yang seperti ini. Minimal satu Konsulen) Tapi apakah seperti itu ? Benarkah seorang ibu harus bisa memberikan ASI secara ekslusif kepada sang bayi yang berusia dibawah 6 bulan? Jika tidak, akan berdampak buruk pada pertumbuhan sang bayi, baik mental, kecerdasan maupun fisik? Secara kasat mata, pertanyaan seperti ini yang banyak menghantui para ibu yang sedang kesulitan melakukan manajemen ASI Eksklusif. 

Pengalaman saya  dan mendengar keluhan beberapa teman, ternyata sangat banyak ibu yang tidak mampu melakukan ASI Eksklusif dan mereka merasa terbeban dengan kenyataan tersebut. Karena selain khawatir dengan pertumbuhan sang bayi, mereka juga mendapat cercaan dan tanggapan sinis dari lingkungannya. Baik sesama ibu di lingkungan rumah maupun tenaga medis (Dokter, Bidan, Suster) saat pemeriksaan rutin di Balai Kesehatan (Rumah Sakit, Puskesmas, Klinik dll.). Seolah mereka adalah ibu yang gagal dan malas berusaha, padahal demi kebaikan sang bayi. 

Sebelum terlalu jauh membahas topik ini, terlebih dahulu dijelaskan  bahwa saya sama sekali tidak menyangkal kehebatan ASI. Saya akui penuh kedahsyatannya. Betul sekali bahwa Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu yang sia-sia, dan ASI memang diciptakan sebagai makanan bayi yang paling sempurna. Ada banyak buku yang menjelaskan perihal keunggulan ASI Eksklusif. Ada banyak orang yang siap menjelaskan apa dan bagaimana cara pemberian ASI Eksklusif. Namun adakah penjelasan, dalam kondisi seperti apa ASI Eksklusif bisa diterapkan ? WHO dalam situs resminya menjelaskan : "Exclusive breastfeeding is recommended up to 6 months of age, with continued breastfeeding along with appropriate complementary foods up to two years of age or beyond." "Recommended", bukan "Should be given". "Dianjurkan", bukan "diharuskan" Kenapa? 

Karena sebenarnya ASI Eksklusif hanya bisa dilakukan pada kondisi ibu yang ideal, 100% prima, baik mental maupun fisik. Yang berkemauan sangat kuat, hingga nyaris mencapai predikat "kepala batu". Selain faktor kerakusan sang bayi dalam menelan sejumlah ASI, ada faktor-faktor lain yang tidak memungkinkan seorang ibu untuk memberi ASI dalam jumlah cukup untuk si bayi. Untuk melakukan ASI Eksklusif, diperlukan pengorbanan luar biasa dari sang Ibu. Karena anda perlu nyaris 18-20 jam sehari dalam keadaan siap sedia, dengan asumsi 6-10 kali pemberian perhari, artinya ASI harus siap diberikan setiap 2,5 - 4 jam. Setidaknya pada 3 bulan pertama kehidupan sang bayi. Jujur, hanya  ibu yang beruntung bisa melakukannya. Selain faktor ASI berlimpah (hingga bisa dipompa dan disimpen dalam kulkas), sang ibu juga hampir bisa dipastikan minim tekanan sosial. Selalu dalam kondisi cerah ceria, tidak banyak pikiran dan beban hidup. Urusan rumah mungkin diserahkan pada anggota keluarga lain atau pembantu. Dan kalaupun lelah dan perlu istirahat, mungkin ada Babysitter atau saudara yang siap bantu. Atau mungkin sang ibu memiliki fisik hiper-fit, tidak pernah capek dan tidak bermasalah untuk hanya tidur maksimal 6 jam sehari selama 6 bulan. Namun bagaimana dengan ibu yang harus kembali bekerja setelah melahirkan? Bagaimana dengan ibu yang kondisi fisiknya sangat menurun dan sulit pulih karena harus mengurus bayi setiap saat? Bagaimana dengan ibu yang tidak memiliki pembantu/babysitter atau tanpa kehadiran sanak keluarga karena berjauhan lokasinya? Bagaimana dengan ibu yang menderita tekanan psikologis karena faktor ekonomi atau sosial-budaya (hubungan dgn mertua, anggota keluarga lain, lingkungan rumah dll) ? Tidak semua tempat kerja punya kulkas. Kalaupun ada, rasanya belum tentu boleh menitipkan ASI di sana. (Anda bisa bereksperimen dengan sedikit nekad. Tanyakan kepada Direktur tempat anda bekerja, apakah boleh menitipkan ASI di dalam Kulkas yang ada di ruang kerjanya?) Seandainya boleh, saat anda pulang kerja, berapa lamakah perjalanan dari kantor ke rumah? Dalam suhu kamar 27 Celcius, ASI bertahan selama 6 jam. Dalam suhu Jakarta yang kadang bisa jadi 31 Celcius, angka tadi melorot hingga 3 jam. Memang ada fasilitas yang bernama Cool Bag. Tas berpendingin yang bisa dibawa saat berada di tempat kerja. Namun apakah semua ibu dipastikan mampu membelinya ? Murah adalah salah satu kondisi yang relatif. Di tempat A mungkin dianggap murah harganya, namun di wilayah B belum tentu. Bisa juga dengan sekedar termos es atau wadah dengan es batu. Hanya tidak di semua tempat bisa tersedia. 

Mungkin ada juga yang tinggal bersama orang tua atau sanak saudara, yang dilengkapi minimal satu pembantu untuk mengurus rumah. Karena anda bisa 100% mengurus bayi, tanpa harus berpikir malam ini makan apa ? Cucian sudah kering belum ? Kalau adaTamu datang, disuguhin apa ya ? Dan tetek bengek lainnya. Lebih untung lagi kalau tersedia Babysitter. Jadi anda bisa tidur siang, sementara bayi diurus Babysitter. Bayi lapar? Ada ASI perah di kulkas Bayi rewel? Ada Neneknya yang siap menggendong Tapi bagaimana jika anda tinggal mandiri, tanpa orang tua dan saudara. Bahkan tanpa pembantu ? Anda bertanggung jawab terhadap kondisi rumah, sementara suami mencari nafkah. Jawabannya silakan dibayangkan sendiri. Anda juga beruntung, jika tinggal bersama mertua dan bisa 100% akur dengan sang "Ibu". Anda seiya-sekata dengan sang "Ibu" dalam mengurus Bayi maupun Suami. Tapi bagaimana jika anda cenderung diremehkan oleh mertua? Anda dianggap tidak becus mengurus Bayi, lengkap dengan petuah sinis & nyir-nyir ala Borju ? Secara Fisik mungkin terlihat kuat, masih bisa senyum walau mendapat sindiran bertubi-tubi. Namun Psikis anda tidak pernah bisa berbohong. 

Tekanan mental, sekecil apapun bisa berkumulatif menjadi tekanan besar. Dan jika telah mencapai tingkat depresi, ASI akan berhenti total. Sekuat apapun bayi menghisap, sebanyak apapun obat yang diminum, tidak akan ada pengaruhnya hingga penyebab depresi 100% hilang. Juga jangan lupakan faktor genetik, kelainan fisik, hormonal dan penyakit. Sekedar Flu pun bisa menggagalkan semangat ASI Eksklusif ( tidak semua ibu yang terkapar dengan demam 38,4 Celcius, dengan hidung meler, batuk dan sakit menelan, masih bersemangat untuk memberikan ASI secara langsung ) 

Setelah berbusa-busa ngetik sekian banyak kata (koq kaya belut ya ? mendadak berbusa...), yang saya ingin sampaikan adalah sudah menjadi kenyataan bahwa dalam suatu kondisi tertentu, tidak semua orang bisa melakukannya. Dunia kesehatan dan manusia bukan seperti Matematika, dimana 1+1 hasilnya pasti 2. Tapi bisa 1,5 atau 2,75. Begitu pula dengan masalah ini. Dalam kondisi seperti ini, cukup banyak praktisi kesehatan dan berbagai kalangan masyarakat yang sekilas kurang peka terhadap kondisi psikologis sang ibu. Dari sekedar masalah emosional ringan hingga berat. Juga kondisi fisik yang kurang mampu berfungsi normal. Pengamatan saya selama ini, hampir selalu mendapatkan/mendengarkan keluhan bahwa ada beberapa ibu kurang beruntung yang justru mendapat tekanan Psikologis saat menghadapi Konsulen atau yang memberi nasehat. Entah karena sikap yang kurang simpatik atau pemilihan tata bahasa yang kurang pas. Kecenderungan  untuk meremehkan kadang lebih besar dari sekedar menelaah pokok permasalahan yang sebenarnya di derita sang ibu. Kadang alih-alih mendengarkan curahan hati sang ibu secara lengkap, sang konsulen jauh lebih sibuk mengindoktrinasi ketimbang mencari jalan keluar dari permasalahan yang ada. Diperparah lagi dengan menggebu-gebu bercerita tentang efek negatif yang akan di derita sang bayi ketika dewasa jika tidak mendapat ASI (kecerdasan menurun, kena Diabetes, hipertensi dll). Maka semakin besar lah tekanan psikologis yang didapat sang ibu. Dihadapan kita, mungkin dia masih bisa tersenyum. Namun ketika dia pulang ke rumah dan berada dikamarnya merenung, siapa yang tahu ? 

Jika hanya masalah emosional ringan, seperti ketidaktahuan, kemalasan dan lain sebagainya. Mungkin bisa ditanggulangi dengan saran dan bimbingan. Namun jika masalahnya termasuk kategori menengah hingga berat (masalah keluarga, ekonomi, keterbatasan fisik dll), perlu lebih dari sekedar saran untuk menganggulanginya. Dan terus terang, pengalaman mengajarkan bahwa hal-hal seperti itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kadang tidak selesai dalam hitungan hari, kadang perlu waktu tahunan. Kadang praktisi juga melupakan masa kecilnya sendiri. Bahwa mungkin ia dulunya pun tidak dibesarkan murni 100% oleh ASI. Mungkin dengan bubur pisang, nasi tim, air putih, air teh dan lain sebagainya. Dan apakah kini mereka tumbuh menjadi bodoh ? Tidak. Mereka tumbuh pintar seperti sekarang ini. Namun kenapa mereka meremehkan orang lain ? Entahlah. 

Sudah menjadi kebiasaan sebagian manusia untuk melupakan sejarahnya sendiri demi mencapai apa yang ia inginkan. Hingga lebih ke arah pencapaian tujuan pribadi ketimbang simpati. Tidak semua, namun ada. Sehingga mohon jangan meremehkan seorang Ibu yang tidak dapat memberikan ASInya secara eksklusif. Saya sangat yakin, di lubuk hatinya pasti dia ingin memberikan ASI secara Eksklusif. Namun apa daya, kondisi tidak memungkinkan. Sangat mau, tapi tidak bisa.... Mohon pahami betul dan jadikan anda dalam posisi sang ibu, sebelum menilai. Ibu yang menderita bukanlah produksi ban berjalan, dimana semuanya identik. Tapi seorang manusia biasa yang memiliki perbedaan dengan manusia lain. Pilihlah kata dengan bijak, sesuai kondisi sang ibu. Mohon jangan menggunakan "ketakutan" sebagai poin pembenaran saat memberikan konsul / nasehat. Teori tetaplah teori, yang kadang berbeda hasilnya ketika diterapkan dalam dunia nyata. Hingga hendaknya ASI Ekslusif tidak menjadi doktrin/keharusan, tapi menjadi anjuran. Seperti yang tertulis dalam Resolusi WHO (http://www.who.int/topics/breastfeeding/en/). 

Doktrin adalah sesuatu yang sensitif. Di mana batas antara kepentingan umum & kepentingan diri sangatlah tipis. Kepada ibu yang beruntung : biarlah kebanggaan itu berada dalam diri anda sendiri. Seraya bersyukur kepada Tuhan, bahwa anda telah diberikan kesempatan nan indah tersebut. Janganlah mencerca atau meremehkan mereka yang tidak bisa. Anda bisa seperti ini karena ijin Tuhan. Kepada ibu yang kurang beruntung : Janganlah berkecil hati. Ketidakmampuan anda bukanlah aib. Karena kekuatan dan kecerdasan anak, bukan hanya dari ASI. ASI hanya menyumbang kecerdasan dasar manusia, bukan intelektual. Sebanyak apapun seorang anak mendapat ASI, tidak menjamin anak itu menjadi Juara Kelas saat dia sekolah. Masih banyak faktor yang menentukan kecerdasan seorang anak dalam tahun-tahun kehidupannya. Jika anda mencampurnya dengan pemberian Susu Formula (SuFor) ; toh masih ada ASI yang diberikan. Walau tidak banyak, tapi lumayan mencukupi untuk daya tahan sang anak. Jika anda terpaksa total hanya memberikan Sufor karena ASI berhenti berproduksi, jangan takut. Meski mungkin si anak termasuk dalam kategori rentan sakit, namun tidak berarti dia tidak bisa tumbuh cerdas. Seiring dengan berjalannya waktu, Kekebalan sang anak akan bertumbuh dan ia akan sehat seperti anak2 lain. 

Di Indonesia ini banyak orang yang tumbuh dari Sufor atau MPASI lainnya, terutama yang lahir sekitar tahun 70-80an.  Tapi apakah mereka pasti bodoh dan penyakitan ? Tidak. Banyak orang hebat di dunia ini tumbuh dari Sufor dan MPASI (walau tidak saya sarankan untuk bayi berumur dibawah 6 bulan). Tetaplah berusaha, meski harapan menipis. Jika Tuhan mengijinkan untuk memproduksi ASI kembali dalam jumlah cukup, anda patut bergembira. Jika Tuhan tidak mengijinkan, anda patut bergembira juga. Karena bayi anda tetap hidup dan sehat, walau kurang atau sama sekali tidak mendapat ASI. Sedikit tambahan, tulisan pembelaan ini tidak ditujukan bagi para ibu yang secara fisik & mental 100% mampu memberikan ASI eksklusif, namun menolak memberikan ASI karena alasan sepele yang tidak bisa dicerna logika (takut bentuk payudara berubah, sibuk ngurus arisan dll). 

Akhir kata, mohon maaf jika tulisan ini masih banyak kekurangannya. Semoga berkenan bagi para pembaca.

Terima Kasih atas kunjungan para sahabat di Blog yang sederhana ini, semoga dapat memberikan Informasi dan Inspirasi bagi anda. Alangkah berkesan jika sahabat berkenan memberikan Komentar dan saran dari setiap Artikel yang kami muat.